
Seperti peninggalan artefak kuno yang dapat bercerita dalam diam seribu bahasa, Biyan menggoreskan perjalanan historis budaya Cina di dalam presentasi koleksinya tahun ini dengan tampilan modern dan sudut pandang yang berbeda, Thornandes James melaporkan.
Antusiasme saya selalu melambung setiap hendak menghadiri sebuah perhelatan presentasi koleksi dari seorang Biyan Wanaatmadja. Alasannya sederhana, karena selain menampilkan koleksi dengan nilai estetika yang tinggi dan layak pakai, Biyan juga selalu menyuguhkan sebuah presentasi yang solid dan matang. Tak terkecuali presentasi koleksinya tahun ini yang bertajuk “The Orient Revisited”.
Pada awalnya saya sempat bertanya-tanya, mengapa Biyan mengangkat tema yang begitu klise dan tengah ramai diangkat oleh dunia mode untuk musim semi dan panas tahun ini. Sempat terbesit di benak saya, bukankah tren oriental yang sudah meramaikan panggung mode dunia sejak caturwulan terakhir tahun lalu sudah cukup terlambat untuk diangkat di tengah tahun ini. Terlebih sudah banyak desainer lokal lainnya pula yang mengangkat tema serupa di awal tahun ini. Tema oriental kian menjadi semakin sempit dan tricky untuk dieksplorasi. Menjawab semua keragu-raguan saya, Biyan membuktikannya di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan Jakarta, Kamis 9 Juni 2011 lalu. Biyan berhasil menyajikan sebuah visi oriental yang segar dan berbeda dengan ide konsep yang matang dan brilian.
Penampilan seorang penari dan latar kain putih dengan sebuah siluet latar dari dekorasi di baliknya menjadi pembuka yang perlahan namun pasti dalam membangkitkan suasana misterius. Musik yang terus melantun mengiringi penari hingga tirai putih yang menutupi panggung dijatuhkan mengungkap sebuah latar hanggar penyimpanan artefak kuno dari Cina. Adegan yang seakan menjadi narasi pembuka dari dongeng kemegahan dunia timur. Tidak berhenti di situ, kedua rak yang penuh berisikan artefak guci besar dan vas Cina itu pun bergerak perlahan membuka jalan untuk model pertama yang berkulit hitam membuka presentasi koleksinya, dan sebuah perjalanan pun dimulai.






*Runway Pictures by Windy Sucipto Courtesy of FIMELA.com
Melalui presentasinya kali ini, dengan gamblang Biyan mengejawantahkan idenya dengan menilik sejarah dan artefak budaya negeri Tiongkok sebagai sumber inspirasinya. Biyan dengan sangat jelas menghindari ide dan imaji klise dari gaya oriental pada umumnya. Tidak ada satu pun warna merah menyala ditemukan di dalam koleksinya. Biyan tengah ingin menegaskan sisi misterius dari dunia timur, terlihat dari palet warna yang ditampilkan cenderung didominasi warna kelam dan dingin seperti biru, abu-abu, putih, hitam, dan champagne. Sisi misterius juga muncul dari detail-detail artefak kuno khas Cina yang menyimpan seribu misteri dan cerita di tiap bendanya. Motif serta lukisan di dalam keramik-keramik, vas, dan guci dari Cina, lukisan–lukisan bunga dan pagoda khas negeri Cina, sampai detail baju zirah tentara Cina jaman dahulu menjadi pilihan yang dipatrikan hampir di seluruh koleksinya baik dalam bentuk print, sulaman, bordir, hingga tatanan payet.






*Runway Pictures by Windy Sucipto Courtesy of FIMELA.com
Garis potong busana yang diketengahkan Biyan pun juga tidak secara literal menggambarkan garis oriental yang generik, melainkan jauh lebih modern dan kekinian. Hal ini merupakan pilihan yang pintar untuk menyeimbangkan dengan segala detail yang diaplikasikan ke dalamnya. Potongan kerah cheong-sam tetap menghiasi koleksinya namun tidak menjadi sorotan utama. Potongan loose masih menjadi khas dan andalan Biyan, namun di koleksinya kali ini potongan bergaya modern seperti new length bergaya lady like dijadikan sorotan utama oleh Biyan. Sisi misterius oriental pun juga ditunjukkan oleh Biyan melalui banyaknya gaya maskulin yang diaplikasikan serta potongan kerah yang terinspirasi dari baju dalam wanita Cina jaman dahulu, misterius yang sensual.



Selain memberikan koleksi yang mengesankan Biyan juga menyajikan presentasi yang memukau. Dari tata cahaya yang dramatis, efek asap yang misterius, dekorasi yang penuh makna dan dinamis, hingga mood yang diciptakan dalam membentuk sebuah cerita. Sepanjang presentasi koleksinya, Biyan menyajikan sebuah perjalanan waktu melalui sebuah benda historis yang sarat makna dan cerita. Biyan seakan membawa kita berjalan mengelilingi sebuah hangar tempat penyimpanan artefak kuno Cina dan mengajak kita untuk mengagumi tiap detail dari artefak yang berada di dalam hanggar tersebut. Hal tersebut membuat presentasinya dirasa begitu halus dan menjadi relevan dengan tema yang di angkat, “The Orient Revisited”.

Menutup presentasinya, sesaat setelah Biyan meninggalkan panggung dengan tersenyum rendah hati, rak-rak artefak kembali menutup panggung satu persatu dengan semburan asap dan lampu yang perlahan meredup.

“And so there was the legend said about the treasure and mystery of the east”.
1 year ago